Rabu, 01 Agustus 2012

makalah budidaya udang windu


BAB I             
v PENDAHULUAN
               Perkembangan budidaya udang di indonesia sejak tahun 2002 hingga 2007,lebih banyak di dominasi oleh usaha budidaya udang vaname di tambak. Banyak pengembang usaha budidaya tambak mulai melirik dan beralih keusaha budidaya udang vaname yang lebih menjanjikan kesuksesan dan keuntu gan dibandingkan   usaha budidaya udang windu. Sementara itu udang windu sebagai komoditas asli indonesia perkembanganya terseok-seok akibat banyaknya petani atau pengusaha yang traumatik akibat kegagalan di dalam usaha budidayanya. sebagian besar hanya petani tradisional dan petani yang tangguh serta petani yang letak lokasinya jauh dari sumber benih vaname yang masih menekuni tambaknya dengan kegiatan udang windu , selebihnya berbondong-bondong mengejar keuntungan melalui usaha budidaya udang vaname di tambak.
               Secara umum lahan tambak yang masih aktif beroperasional dan berproduksi pada saat sekarang berkisar antara 20-30%. Dengan kondisi budidaya udang seperti ini ,banyak petambak sementara waktu meninggalkan lahan tambaknya untuk tidak dioperasionalkan .berbagai program pemerintah yang dalam hal ini dipelopori oleh Departemen kelautan dan perikanan telah berusaha keras membangkitkan kembali kejayaan budidaya udang di indonesia, dengan meluncurkan berbagai teknologi BMP (best management practices), teknologi CBIB (Cara Budidaya Ikan Secara Baik Dan Benar), dll. Perkembangan udang khususnya budidaya udang windu di tambak, sampai saat ini belum banyak mengalami kemajuan  karena banyak budidaya yang traumatik, ditambah dengan sulitnya penanganan penyakit SEMBV pada budidaya udang windu, serta tingginya bahan-bahan operasional kegiatan budidaya membuat kelesuan berlanjut hingga sekarang.
               Salah satu faktor penyebab kegagalan budidaya uang di tambak adalah kurangnya pemahaman dan tidak konsisten di dalam menerapkan suatu paket teknologi budidaya yang benar serta terlupakan perlunya penerapan SOP (standart operasional prosedure) spesifik lokasi pelanggaran kaidah-kaidah berbudidaya masi sering terjadi, tidak jarang berujung pada munculnya serangan penyakit pada udang dan akhirnya gagal berproduksi. Oleh karena itu konsep dasar dari budidaya hendaknya diterapkan secara baik dan benar. Salah satu konsep dasar dari  kegiata budidaya udang di tambak adalah penerapan manajement pemeliharaan selama kegiatan budidaya berlangsung. Dalam melakukan budidaya udang maka seluruh rangkaian kegiataanya harus terprogram. Kesalahan di dalam management pemeliharaan budidaya udang akan berdampak tidak saja pada laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup, tingginya konversi rasio pakan (FCR), menurunya kualitas tanah dan air, namn juga berdapak oada kualitas udang sebagai hasil akhir produk budiaya. Terkait dengan anyaknya kasus penolakan udang oleh negara pengimpor karena tingginya kandungan bakteri dan residu antibiotik terlarang dalam tubuh udang, maka di dalam pelaksanaan kegiatan budidaya udang juga harus memperhatikan faktor keamanan pangan (food safety).


1
BAB II    
v DESKRIPSI BISNIS
               Udang windu masih merupakan komoditas utama dalam usaha budidaya tambak. Terlepas dari berbagai permasalahan dalam usaha budidaya yaitu adanya kegagalan dalam pembesaran di tambak , hingga saat ini komoditas udang windu masih merupakan pilihan utama untuk di budidayakan oleh petambak terutama petambak sederhana. Hal in i dikarenakan udang windu mempunyai harga pasar yang baik dan relatif stabil. Secara ekonomis keberhasilan panen udang windu ukuran konsumsi memberikan keuntugan yang tertnggi per satuan waktu di bandingkan komoditas ikan lainya. Sehingga banyak petambak sederhana walaupun dengan kemampuan teknis budidaya udang windu sangat terbatas namun terus melakukan penebaran benih udang.
               Areal tambak dengan panjang garis pantai yang lebih dari 81.000 KM menyimpan potensi besar bagi usaha budidaya tambak udang. Sebagian besar areal tambak tersebut lebih dari 80 % masih dikelola secara tradisional dengan teknologi secara turun-temurun. Hal ini berkaitan dengan permodalan petambak dan keengganan mengendalikan beberapa faktor penyebab kegagalan budidaya udang sekaligus. Munculnya permasalahn lingkungan budidaya,serta penerapan teknologi yang sudah tidak sesuai, menyebabkan tingginya peluang kegagalan.
v ASPEK PRODUKSI
Berdasarkan identifikasi permasalan budidaya udang windu , terdapat sedikitnya tiga faktor penyebab gagal berproduksi antara lain : kualitas benih yang rendah dan terinfeksi virus white spot (WSSV); lingkungan tempat budidaya yang terkontaminasi dan fluktuasi lingkungan dalam tambak yang ekstrim akibat eutrifikasi. Permasalahan ini terjadi pada semua tingkatan teknologi pembesaran mulai dari teknologi tradisional hingga intensif. Permasalahn lain yang dapat memperparah kegagalan adalah sistem tata guna air yang buruk antar petambak sehingga memudahkan   terkontaminasi dan infeksi pada petakan tambak dalam satu kawasan.
               Permintaan negara konsumen udang saat ini sangat menekankan keamanan pangan (food safety), sehingga mengharuskan produksi udang bebas dari bahan-bahan yang berbahaya seperti antibiotik, pestisida dan bahan berbahaya lainya. Oleh karena itu perlu disusun petunjuk petunjuk teknis budidaya udang yang mampu memperkecil resiko kegagalan,ramah lingkungan  dan keamanan pangan dari hasil produksi.
·        Faktor penghambat dan pendukug tercapainya sasaran produksi perikanan produksi
               Beberapa aspek yang menyebabkan hasil budidaya tambak tidak maksimal, salah satu isu strategis adalah terbatasnya pengetahuan dan teknologi budidaya yang dimiliki bagi para petani tambak itu sendiri. Keterbatasan pengetahuan dan teknologi ini berakibat pada kesulitan mereka untuk dapat meningkatkan hasil produksi tambak persatuan luas. Hal ini menjadi cermin bagi petugas perikanan dalam penyebarluasan atau penyuluhan bagi petani tambak. Beberapa kemungkinan penyebab keterbatasan pengetahuan dan teknologi petani tambak adalah :
2
a)      Terbatasnya jumlah dan kapasitas pengetahuan tenaga pendamping yang dimilii oleh dinas terkait (dinas perikanan dan kelautan badan diklat dll) dalam melakukan penyuluhan budidaya di lapangan.
b)      Kurangnya atau terputusnya koordinasi dari instansi terkait dalam melakukan sosialisasi  setiap teknologi baru yang dihasilkan.
c)      Secara umum petani tambak mempunyai keengganan untuk menerima teknologi baru , yang belum dipraktekan atau dilihat secara langsung oleh petani di daerah tempat usahanya. Hal ini disebabkan karena adanya ketakutan dan keraguan mengenai tepat tidaknya teknologi tersebut dalam meningkatkan produktivitas usahanya.
Adapun faktor-faktor yang mendukung produktivitas perikanan budidaya antara lain :
1)      Potensi sumber daya perikanan budidaya cukup besar dengan aneka jenis ikan dan biota air laut maupun air tawar bernilai ekonomis (udang,ikan kerapu,rumput laut,ikan patin dll) yang memungkinkan untuk dibudidayakan.
2)      Lahan untuk usaha budidaya yang terbentang luas di wilayah indonesia.
3)      Sumber daya manusia serta tenaga kerja yang relatif banyak dan murah.

v  ASPEK PASAR  
               Dalam menjalankan bisnis ini memang cukup menguntungkan dipasaran,tetapi juga banyak mengambil resiko  Permintaan negara konsumen saat ini sangat menekankan keamanan pangan (food safety), sehingga mengharuskan produksi udang bebas dari bahan-bahan yang berbahaya.
               Setelah udang mencapai ukuran konsumsi dengan harga pasar yang baik,harga jual udang tergantung size ukuran dan tiap waktu harga bisa berubah sesuai ukuran atau size yang dibutuhkan pasar , sehingga petambak harus mengikuti perubahan harga pasar udang berdasar size atau ukuran waktu akan melakukan panen untuk mendapatkan nilai jual yang tinggi. Selain itu mutu udangpun harus dijaga agar kualitas udang tetap terjaga sehingga tidak menurunkan harga pada saat dijual.
               Pemasaran udang windu akhir-akhir ini agak kurang berjalan dengan lancar,salah satu penyebabnya adalah kegagalan budidaya tambak udang di berbagai daerah sehingga para pengusaha udang banyak mengurangi kegiatannya. Di samping itu informasi yang kurang terjalin dengan baik antara produsen udang dengan pengusaha tambak juga mengakibatkan pemasaran udang kurang lancar juga. Kondisi mutu udang menjadi issue utama sekarang ini sehingga pengusaha tambak akan memilih udang yang bermutu baik. banyak faktor teknis yang harus dipertimbangkan pasar dan harus diperhitungkan dalam pelaksanaan panen.
ü  Mengangkut udang dari tambak secepatnya untuk dibersihkan.
ü  Membilas udang dengan air tawar dan bersih.
ü  Mematikan udang dengan air es.
ü  Memilih udang berdasarkan ukuran dan kualitas
ü  Sesegera mungkin menimbang udang
ü  Memberi es pada udang yang telah dipilah dengan berselang masing-masing setebal 10cm.                                                                                                              
Dengan cara diatas, penurunan kualitas dan rasa udang hampir sama tidak terjadi,dan pembeli dari dalam atau luar negeripun akan menghargainya dengan memberi harga yang tinggi.
v ASPEK OPERASIONAL
1)      Aspek operasional merupakan prosedur baku yang menjadi pegangan bagi pembudidaya untuk dapat menerapkan tata cara / aturan yang ada dengan semestinya. Standart operasional prosedur adalah tuntunan yang telah teruji dan menjadi kebutuhan yang seharusnya dalam menjalankan proses produksi yang di terapkan. Pernyataan “dengan benar dan tepat waktu” adalah berupaya maksimal untuk tidak melakukan penggeseran atau mengalihkan ketentuan yang ada dalam SOP tersebut. Sebagai konsekuensi yang menjadi tanggung jawab adalah melaksanakan secara konsisten seluruh kaedah yang telah tertulis dalam SOP dan menyempurnakan / memperbaiki segala bentuk ketidak sesuaian yang tidak terjadi selama dalam pelaksanaan proses produksi.
2)      Tersedianya sarana dan prasarana yang cukup dengan jangkauan yang mudah. Ketersediaan sarana budidaya yang cukup dan lengkap serta tidak banyak mengalami kesulitan untuk mendapatkanya adalah menjadi salah satu syarat yang tidak dapat lagi di tunda dalam proses produksi. Demikian pula halnya bangunan (baik permanen maupun tidak). Serta prasarana lainya yang mendukung dalam kelancaran proses produksi dan pemasaran hasil.
3)      Peningkatan etos kerja,penerapan biosekurirti dan kerjasama mutualistis antar pembudidaya. Kegigian petambak sebagai pelaku budidaya tentu tidak di sangsikan lagi akan keuletan dan kerja kerasnya karena rasa memiliki dan rasa tanggung jawab sudah harus melekat dalam kehidupanya guna mempertahankan dan ingin meraih sukses atas upaya yang dilakukanya unutk mencapai kesejahteraan yang lebih baik. Penerapan biosekurirti merupakan salah satu unsur kegiatan untuk melindungi segala upaya yang dilakukan selama dalam proses produksi maupun pada masa tidak berproduksi. Salah satu yang dimaksud dalam kerjasama yang menguntungkan antar pembudidaya ini adalah seberapa besar upaya yang dilakukan untuk mempertahankan agar kondisi kualitas lingkungan yang menjadi milik bersama (open access) seperti saluran utama dan saluran sekunder pada kondisi yang baik.
BAB III
v RESIKO YANG MUNGKIN DIHADAPI
*    menurunya harga udang dikarenakan kualitas yang buruk akibat air yang terkena limbah pabrik.
*     sulitnya penanganan penyakit yang sering menjangkit udang di karenakan kurangnya obat-obatan/vitamin untuk udang.
*    Tingginya bahan – bahan operasional kegiatan budidaya membuat kelesuan dikalangan petambak.                                                                                           4
*    kurangnya sumber daya manusia untuk mengelola tambak agar tetap sukses dipasaran
*    pengelolaan masih menggunakan sistem tradisional karena kurangnya teknologi yang memadai.
*    Kualitas benih yang rendah sehingga memudahkan bnih terserang virus/penyakit.
*    Lingkungan budidaya yang gampang terkontaminasi dam fluktuasi lingkungan dalam tambak yang ekstrim akibat eutrifikasi.
*    Keamanan pangan udang masih sangat rendah dari bahan – bahan berbahaya seperti pestisida,antibiotik dll,karena kurangnya vitamin untuk udang.
v   ASPEK KEUANGAN
Anggaran Biaya Operasional Tambak Udang Semi Intensif
NO
ITEM
VOLUME
UNIT PRICE
(RP)
TOTAL (RP)
I
INVESTASI




1.
Rekonstruksi tambak





a.pemasangan lapisan inti
    (waring) per (m)
400
7,500
3,000,000


b.pintu kayu pembuangan (unit)
2
750,000
1,500,000

2.
    Peralatan equipment





a.pump 8”,diesel,standar dan
    kelengkapanya (unit)
2
5,000,000
10,000,000


b.kincir  ganda  1(unit)
1
10,500,000
10,500,000


c. salinometer (unit)
1
50,000
50,000


d. thermometer (unit)

25,000
25,000


e. ph pen

500,000
500,000


f. tes kit alkalinitas (unit)
1
250,000
250,000


JUMLAH


25,825,000

II
OPERATIONAL  COST :





a. persiapan tambak  
    (caren,jembatan,anco)
3
500,000
1,500,000


b. benih udang padat tebar 10
    pcs/m2 (ekor)
100,000
40
4,000,000


c. pakan pellet (kg)
2,250
8,000
18,000,000


d. benih bandeng sebagai biofilter
    (ekor)
2,000
250
500,000


e. pakan pellet bandeng (kg)
400
2,500
1,000,000


f.  suplement multivitamin
    (packet)
1
500,000
500,000


g. caporit (calsium hypochloryde)
    (kg)
360
9,000
3,240,000


h. kapur (caOH) (kg)
1500
400
600,000


i.  pupuk NPK (kg)
200
1,750
350,000


j.  pupuk lengkap mikronutrien
    (kg)
10
16,000
160,000


k. molase / tetes tebu (liter)
100
1500
150,000


l.  trasfish pakan segar (kg)
200
5,000
1,000,000


m. probiotik (package)

1,000,000
1,000,000


n. fuel (I)





                Pump (unit)
2,000
1,700
3,400,000


                Pedla well
750
1,700
1,275,000


o. oil (I)
60
12,500
750,000


p. equipment maintenance
    (package)
2
500,000
1,000,000


q. labour cost (mont)
12
500,000
6,000,000


r.  tecnician sepervisior (mont)
6
750,000
4,500,000

JUMLAH


48,925,000
III
Production




a. est.prod SR 60 %,size 40
    ekor/kg
1500
50,000
75,000,000

b. est. prod milk fish SR 90 %,size
     4 ekor/kg
400
6,000
2,400,000

JUMLAH


77,400,000
IV
Opertional cost :




a. operational (item 3-6)


48,925,000

b. penyusutan 20 % (item  1+2)


5,165,000

JUMLAH


54,090,000
V
KEUNTUNGAN


23,310,000
Keterangan :
                 Biaya produksi (SR 60%,FCR 1,5)=         Rp.  36,060


BAB IV
v  ANALISA EKONOMI


Ada beberapa metode penilaian investasi yang tujuanya untuk mengetahui apakah usaha tersebut dapat dikatakan layak atau tidak untuk dilanjutkan atau diteruskan. Karena dalam analisa ekonomi ini akan diketahui keadaan yang mencerminkan perkembangan usaha, terutama untuk masa jangka panjang, terlihat adanya perkembangan finansialnya. Adapun analisa keuangan yang dipergunakan pada umumnya adalah :
Ø  Analisa payback period
Ø  Analisa benfid cost ratio (BCR)
Ø  Analisa break even point/titik impas (BEP)
Ø  Analisa internal rate of return (IRR)
Ø  Analisa financial rate of return (FRR)
Ø  Analisa payback period of credit

         Payback period adalah suatu metoda yang menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan agar dana yang dikeluarkan/tertanam dalam suatu investasi dapat diperoleh kembal seluruhnya.
         Benefit cost ratio adalah perbandingan antara total pendapatan selama masa tertentu (besarnya manfaat) dengan capital out lay.
6
         Break even point/titik impas adalah suatu tekhnik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap,biaya variabel,keuntungan dan volume kegiatan.
         Internal rate of return adalah sebagai tingkat bunga yang akan dijadikan jumlah nilai sekarang dari proceeds yang diharapkan akan diterima sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal.
         Financial rate of return adalah tingkat pengembalian modal dalam satu tahun usaha yang dijalankan.
         Payback period of credit adalah jangka waktu pengembalian kredit atau modal/investasi.
Berikut dibawah ini contoh dalam perhitungan analisa usaha bidang perikanan budidaya sebagai berikut :
1.      Analisa usaha budidaya udang windu teknologi semi intensif program revan di desa segaramakmur kec.tarumajaya kabupaten bekasi.
v  Investasi
NO
KOMPONEN ATAU KEGIATAN
JUMLAH (RP)
1
Sewa lahan selama 1 tahun
3,000,000
2
Prbaikan konstruksi tambak
2,500,000
3
Kincir air (long arm 1 unit)
12,000,000
4
Peralatan tambak, 1 unit
2,000,000
5
Peralatan monitoring


                 Total investasi
20,800,000
v  Biaya Operasional
NO
KOMPONEN ATAU KEGIATAN
JUMLAH (RP)
1
Kapor dolomite 4 ton
3,200,000
2
Pupuk (raja bandeng,molasses,sps)
648,000
3
Molasses (tetes tebu) 400 kg
800,000
4
Saponin    50 kg                  
125,000
5
Probiotik  (super ps) 40 liter                        
600,000
6
Disinfektan (repoor) 5 liter
375,000
7
Benih udang bebas virus 270.000 ekor
9,450,000
8
Vitamin C 2 kg
230,000
9
Antibiotik 1 kg
292,000
10
Minyak cumi 4 liter
100,000
11
Pakan udang (pellet) 4,700 kg
47,000,000
12
BBM 1836 liter
5,490,000
13
Suku cadang mesin
1,500,000
14
Gaji karyawan,konsumsi 2 orang,4 bulan
8,000,000
15
Gaji mekanik,2 orang 4 bulan
1,000,000
16
Gaji keamanan,2 orang 4 bulan
2,400,000
17
Biaya panen 1 paket
2,000,000

Total biaya variabel
83,210,000

7
Jumlah biaya (TC)                      = (TC+TVC)                         = Rp. 104.010.000
Hasil (revenue/benfit)               =
a)      Udang windu 3.554 kg (x2) @ 36.099,4     = Rp. 256.560.000
Hasil bersih (TR-TC)                                                                = Rp. 152.550.000
KESIMPULAN :
A.     B/C Ratio =          TR               = Rp. 256.560.000        =  2,46
                                      TC                   Rp. 104.010.000
Artinya : B C Ratio > dari 1 berarti layak untuk dijalankan , dan setiap pengeluaran Rp. 1 akan menghasilkan pemasukan Rp. 2,46
B.     BEP Harga =            TC             = Rp. 104.010.000  = Rp. 14.632,8
                                Tol prod/thn               7.108 kg
Artinya : titik impas harga terjadi Rp. 14.632,8
C.     =   HASIL BERSIH    =      Rp.152.550.000 X 100% = 734 %
       INVESTASI               Rp. 20.800.000
Artinya : kepercayaan pada usaha ini 734 %
D.     PPC                      =      INVESTASI     = RP.20.800.000     X 1 Tahun = 0,12 Tahun
  HASIL BERSIH           Rp.152.550.000
Artinya    : kegiatan usaha ini pengembalian kreditnya adalah 0,12 tahun (2 bulan).










8
BAB V
         KESIMPULAN
Produksi udang di tanah air hingga saat ini pasok utamanya masih mengandalkan hasil tangkapan dari laut, yang kegiataannya terkadang sangat sulit dikendalikan untuk tetap pada produksi optimum. Kegiatan penangkapan udang di laut sudah cenderung melebihi jumlah penangkapan yang di perbolehkan sehingga dapat membahayakan keseimbangan biologis perairan. Beberapa perusahaan penampungan udang (cold strorage) di indonesia telah mencatat bahwa saat sekarang jumlah produksi hasil tangkapan udang dari laut jauh menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini dapat dijadikan sebagai indikator bahwa populasi udang di laut telah mengalami penurunan akibat eksploitasi yang berlebihan akibat intensitas alat tangkap yang di gunakan oleh nelayan. Agar pemenuhan jumlah ekspor udang dapat terus di pertahankan, maka pemerintah telah mengambil langkah-langkah diantaranya dengan program peningkatan budidaya untuk ekspor perikanan (propekan)melalui pengembangan wilayah budidaya (tambak)sesuai dengan spesifikasi dan karakteristik wilayah masing-masing.
         Budidaya udang di tambak kiranya perlu terus ditingkatkan karena sebenarnya prinsip dari usaha tersebut adalah mengaplikasikan teknologi yang dapat merubah proses produksi melalui ukuran ekologis sesuai yang dianjurkan dalam cara budidaya ikan yang baik (good aqualture practices), agar produksi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pasar saat ini, terutama untuk negara uni eropa. Penyediaan benih sebagai mata rantai pertama dalam pembudidayaan udang memegang peranan cukup penting. Bahkan untuk melaksanakan usaha budidaya udang dengan teknologi tinggi (intensif),semi intensif maupun tradisional,penyediaan benih secara berkesinambungan sangat diperlukan tidak hanya untuk peningkatan produksi (kuantitas) tetapi juga menjamin mutu (kualitas) produk sehingga mampu bersaing terutama di pasaran internasional .










9
DAFTAR ISI

BAB  I
Ø  PENDAHULUAN.......................................................................................................................  1
o   PERKEMBANGAN BUDIDAYA UDANG DI INDONESIA..............................................  1
o   KEAMANAN PANGAN UDANG WINDU.........................................................................  1
BAB  II
Ø  DESKRIPSI BISNIS..................................................................................................................  2
Ø  ASPEK PRODUKSI................................................................................................................... 2
Ø  ASPEK PASAR..........................................................................................................................  3
Ø  ASPEK OPERASIONAL...........................................................................................................  4
BAB  III
Ø  RESIKO YANG MUNGKIN DIHADAPI................................................................................. 4
Ø  ASPEK KEUANGAN ................................................................................................................. 5
ü  ANGGARAN BIAYA OPERASIONAL................................................................................  5
ü  KEUNTUNGAN.................................................................................................................... 6
BAB  IV
Ø  ANALISA EKONOMI....................................................................................................................7
Ø  Analisa payback period.............................................................................................7
Ø  Analisa benfid cost ratio (BCR)................................................................................. 7
Ø  Analisa break even point/titik impas (BEP)................................................................ 8
Ø  Analisa internal rate of return (IRR).......................................................................... 8
Ø  Analisa financial rate of return (FRR)......................................................................... 8
Ø  Analisa payback period of credit............................................................................... 8
BAB  V
Ø  KESIMPULAN.............................................................................................................................. 9








LAPORAN PERENCANAAN BISNIS
BUDIDAYA UDANG WINDU
SEMI INTENSIF
logo stei.jpg









OLEH : HENDRA WIJAYA
NPK :111000345
DOSEN :  SUDARMADJI

KEWIRAUSAHAAN
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar